Kegiatan ayah dan anak yang terlihat cuma tetapi sebenarnya sangat berarti
Menemani anak bermain atau melakukan aktivitas lain sering dianggap hal yang cuma. Padahal di zaman digital seperti ini, bukan hal yang mudah mampu mindfull menemani anak sibuk dengan aktivitasnya. Sering kali orang tua sudah terdistraksi atau sibuk dengan gawainya.
Apresiasi yang sangat bangga untuk semua orang tua yang mau meletakkan gawainya saat sedang bersama anak. Hal seperti itu, bukanlah sesuatu yang cuma dan bukan sesuatu yang mudah. Apalagi anak-anak zaman sekarang pada umumnya, justru semakin penasaran dengan apa yang terlihat di layar gawai.
Coba kita kasih rekomendasi bonding dengan anak low maintenance atau low budget. Walaupun aktivitas di bawah ini terlihat seperti kegiatan yang cuma, tapi sebenarnya aktivitas di bawah ini punya dampak yang sangat berarti untuk kecerdasan dan kesehatan mental anak-anak.
Bertanya
Ada usia anak saat anak sangat aktif bertanya, sekitar usia 3-5 tahun. Bahkan dalam satu hari, mereka bisa bertanya sampai 70 hingga 100 pertanyaan. Kemampuan bertanya pada anak ini, erat kaitannya dengan perkembangan kognitif atau kecerdasan anak. Sebagai orang tua kita juga tidak boleh melarang anak untuk sering bertanya, hanya karena kita merasa over stimulasi dengan pertanyaan anak yang sangat banyak. Justru kita sebagai orang tua harus bisa memancing rasa ingin tahu anak kita, salah satunya dengan cara menjawab pertanyaan anak kita dengan sebuah pertanyaan. Tujuannya supaya anak belajar mencari jawaban terlebih dahulu, hal ini juga membantu pertumbuhan kognitif anak. Kita sebagai orang tua saat dilingkungan rumah atau di luar rumah juga bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang lingkungan sekitar anak.
Dalam sebuah sekolah biasanya menggunakan media gambar untuk memancing rasa ingin tahu anak sehingga muncul pertanyaan dari mereka, yang bisa meningkatkan kemampuan kognitif anak-anak. Saat kegiatan membacakan buku pada anak selain menggunakan metode read aloud, juga bisa menggunakan cara dengan menanyakan alur dan tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Bertanya memang kegiatan yang sederhana dan sangat minim biaya, tetapi masih banyak yang lupa bahwa kegiatan bertanya ini bisa membantu pertumbuhan kognitif anak, sekaligus membangun bonding yang kuat hanya lewat hal sederhana.
Bercerita
Ini berdasarkan pengalaman pribadi, melihat ayahnya anak-anak sendiri, karena sebagian besar waktunya habis untuk bekerja, urusan rumah, dan memandikan anak, maka waktu terbaik adalah ketika anak-anak akan tidur. Hal yang paling mudah dan paling disukai suami saya sekaligus disukai anak-anak adalah bercerita.
Kebetulan di rumah ada dua toddler yang pertama perempuan tipe anak kritis dan suka bercerita, jika dihadapan orang tuanya. Sedangkan adiknya laki-laki yang lebih suka kegiatan fisik, jadi memang untuk hal yang sifatnya bertanya atau bercerita, terkadang anak saya yang nomer dua ini, masih kesulitan untuk mengembangkan kosakata nya sehingga ajang unjuk bakat sebelum tidur ini, sangat membantu kosakata anak kedua saya, dia melihat penampilan kakaknya sekaligus dia berusaha untuk membuat satu cerita, biasanya dia membuat cerita aktivitasnya dalam satu hari itu. Terkadang juga bergantian ayahnya yang bercerita, dari hal sesederhana ini, besar harapan kita bisa membangun bonding ayah dan anak.
Bernyanyi
Anak perempuan saya yang hobi bernyanyi dimanapun, sedangkan anak laki-laki saya yang hobi bernyanyi di kamar mandi. Untuk urusan bernyanyi, biasanya tidak memandang gender ya, hampir semua anak-anak menyukai kegiatan ini, bernyanyi memang kegiatan yang mudah dihafalkan, bisa dilakukan dimana saja dan pastinya membuat anak merasa bahagia.
Anak-anak tetaplah anak-anak, mereka adakalanya merasa bosan dengan rutinitas, adakalanya mereka tantrum atau bertanya setiap saat dengan pertanyaan yang sama. Sampai terkadang kita sebagai orang tua berfikir, sudah mengajak anak ke tempat bermain atau ke kebun binatang hingga membelikan beragam mainan, tetapi kenapa anak-anak masih seperti mudah bosan sampai terkadang kita buntu harus memberikan kegiatan apalagi.
Nada-nada lagu walaupun diulang berkali-kali, ternyata sama sekali tidak pernah membosankan bagi anak-anak, kita hanya memulai lirik lagunya, anak-anak akan mengikuti nyanyian tersebut, dan bimsalabim rasa bosan dan sekat-sekat antara orang tua dan anak, tiba-tiba runtuh satu per satu.
Bersepeda
Kegiatan keempat sekaligus kegiatan terakhir di artikel ini, bersepeda bersama anak-anak bisa jadi hal yang paling ditunggu anak-anak, aktivis fisik dan cahaya matahari yang cukup sudah bisa merekatkan hubungan orang tua dan anak. Walaupun selama bersepeda hanya menikmati pemandangan sekitar tanpa adanya interaksi. Tetapi bersepeda sudah menjadi bonding yang kuat, sekaligus mencontohkan kepada anak-anak bahwa olahraga setiap hari dibutuhkan untuk membentuk tubuh yang sehat.
Anak-anak tetaplah anak-anak, mau tidak mau mereka harus melewati fase tantrum, gtm, dan beberapa drama toddler lainnya. Sampai akhirnya drama-drama toddler tersebut pada umumnya bisa hilang, ketika mereka memasuki usia sekolah dasar atau pada tahapan kids. Ketika sudah usia sekolah dasar, anak-anak terlihat jauh lebih mandiri dibandingkan usia toddler. Hampir sudah tidak ada drama GTM dan tantrum, tetapi ternyata usia sekolah dasar ini termasuk dalam zona hijau, terlihat tenang karena minim drama, tetapi jika kita tidak berusaha mendekat kepada anak-anak atau kita tidak dekat dengan anak kita sendiri, ketika mereka di zona hijau ini, takutnya muncul ledakan ketika mereka remaja yang disebut dengan zona merah. Usia sekolah dasar, sering muncul ucapan dan sikap anak-anak seperti teman-temannya. Bonding di usia toddler juga sebagai bekal jika suatu saat mereka mulai menghabiskan waktu lebih lama dengan temannya, setidaknya anak-anak tetap menjadikan kita orang tuanya sebagai teman dan sahabat pertama. Kegiatan bonding ayah dan anak, bukan hanya mengisi waktu, tetapi ini adalah tabungan membangun peradaban untuk membentuk anak-anak kita menjadi anak yang beradab dan berempati.






Komentar
Posting Komentar